Siklus Batuan dan Jenis-jenis Batuan

Batuan adalah benda padat yang terbuat dari berbagai mineral berbeda. Batuan umumnya tidak seragam atau terbuat dari struktur yang tidak bisa digambarkan oleh rumus ilmiah. Ilmuan umumnya mengelompokkan bebatuan berdasarkan siklus batuan.

Siklus batuan

Photo credit: Google

Siklua batuan adalah proses batu yang panjang dan lambat dari bawah permukaan bumi dan lalu muncul ke permukaan. Batuan sering mengalami perubahan selama proses ini.

Selama siklus batuan, batu dari dalam bumi, bergerak dan kadang berubah, muncul ke permukaan dan perlahan kembali ke bawah tanah. Tiga batuan utama adalah batu beku, sedimen, dan metamorf. Tiap batu bergerak di siklus dengan cara berbeda.

Jenis utama bebatuan

Ada 3 jenis utama bebatuan, yakni metamorf, batuan beku, dan batuan sedimen.

Batuan metamorf

Photo credit: Google

Batuan metamorf terbentuk oleh panas dan tekanan yang besar. Umumnya batuan metamorf ditemukan di dalam kerak bumi dimana ada cukup panas dan tekanan untuk membentuk batuan ini.

Batuan metamorf sering terbuat dari jenis batuan lain. Misalnya batu serpih, batuan sedimen, yang bisa diubah atau bermetamorfosis, menjadi batuan metamorf seperti batu sabak atau batu genes. Contoh batu metamorf lain adalah antrasit, sekis, dan marmer.

Marmer dan kwarsit adalah jenis batuan metamorf yang  paling umum. Batuan ini sering dipilih untuk material bangunan dan karya seni. Marmer digunakan untuk patung dan barang dekoratif seperti vas.

Kwarsit sangat keras dan sering dihancurkan dan digunakan pada pembangunan jalan. Sekis dan batu sabak kadang digunakan sebagai bahan bangunan dan material landscape.

Batuan beku

Photo credit: Google

Batuan beku dibentuk oleh gunung merapi. Ketika gunung merapi meletus, memuntahkan batuan cair panas yang disebut magma atau lava. Perlahan magma akan mendingin dan mengeras, baik ketika mencapai permukaan bumi atau di dalam kerak bumi.

Baca juga  Tips Membuat Pelanggan Email Anda Merasa Istimewa (Studi Kasus)

Magma atau lava yang mengeras disebut batuan beku. Contoh batuan beku termasuk granit dan basal.

Tiap jenis batuan punya kegunaan sendiri menurut tekstur dan kandungan mineralnya. Granit, basal, batu apung adalah beberapa contoh batuan beku.

–          Batu granit. Digunakan untuk bagian atas dapur mahal, untuk konstruksi monumen, jembatan, bangunan kantor, lantai, dan dekorasi interior. Granit terlihat halus dan bersinar ketika disemir dan merupakan batuan beku yang paling banyak digunakan.

–          Batu basal. Digunakan sebagai bahan beton karena batuan berserat halus.

–          Batu apung. Batu apung adalah batuan beku ringan yang umumnya digunakan untuk mengangkat sel kulit mati dari bagian bawah kaki. Batu apung sering digunakan sebagai batu dekorasi pada landscape. Ketika digiling menjadi bubuk, batu apung digunakan sebagai abrasif dalam campuran semir.

Batu apung adalah material bangunan yang disukai di zaman Roma kuno. Sekarang batu apung juga digunakan pada kosmetika dan industri pembersihan. Juga digunakan sebagai abrasif di pasta gigi. Abrasif alami pada batu apung juga dibuat dalam material untuk membersihkan.

Batuan sedimen

Photo credit: Google

 

Batuan sedimen dibentuk selama bertahun-tahun dan memadat dan menjadi keras.

Umumnya, aliran sungai akan membawa banyak bagian batu kecil dan mineral. Bagian ini akan diam di bagian dasar sungai selama waktu yang lama (mungkin jutaan tahun), lalu membentuk batuan padat. Beberapa contoh batuan sedimen adalah batu serpih, batu kapur, dan batu pasir.

Ada beberapa jenis batuan berbeda yang dikenal menghasilkan hidrokarbon, yang jadi sumber produksi minyak dan gas. Batu-batu berikut penting untuk produksi hidrokarbon:

–          Batu pasir. Batu pasir mengandung sekitar 85 persen kuarsa. Jenis batu ini dikenal digunakan untuk bendungan.

Baca juga  Tahukah Anda Perusahaan Startup Email Pertama di Dunia?

–          Batu kapur. merupakan  jenis karbonat yang dikenal karena kandungan tinggi mineral kalsit. Batu kapur juga dikenal sebagai batuan sedimen yang digunakan pada bendungan.

–          Batu dolomit. Dolomit adalah jenis karbonat lain yang dikenal terdiri dari setidaknya 90 persen dolomit dan kurang dari 10 persen total mineral kalsit.

–          Batu serpih. Material seperti lumpur, tanah liat, dan garam membentuk batu serpih.

–          Batu evaporit. Dibentuk dari evaporasi mineral seperti garam dan bentuk deposit garam.

Baca artikel lainnya tentang metamorfosis katak.

Fakta menarik tentang siklus batuan

 

Photo credit: Google

Berikut ini beberapa fakta tentang siklus batuan:

–          Magma yang mendingin di bawah permukaan bumi menjadi batuan padat sangat perlahan sehingga mempengaruhi teksturnya. Jenis batuan ini disebut intrusif.

–          Batuan cair yang mendingin dengan cepat setelah terpapar udara bumi punya serpihan halus dan disebut ekstrusif. Obsidian adalah contoh jenis batuan ini.

–          Apapun jenis batuannya kadang pecah, meski ukurannya sudah kecil. Meski serpihan pasir di kelas batuan yang sama merupakan bagian dari batu besar, tapi setelah serpihan pasir mengering berubah menjadi massa yang lebih besar dan kembali menjadi sedimen.

–          Dalam pertarungan panjang antara batu dan air, air akan menang. Air, baik melalui pelapukan dan erosi atau dalam air tanah, sangat efektif memecahkan batuan. Air melarutkan mineral dan membawa ion untuk bisa digunakan dimanapun. Air juga membawa sedimen ke titik untuk bisa berkumpul, berakumulasi dan terpendam di bawah tekanan dan berubah kembali menjadi batu.

–          Kebanyakan batuan cair yang mencapai permukaan umumnya dari magma yang paling rendah kepadatannya.

–          Magma yang membengkak ke dasar lautan efektif dalam siklus batuan dua arah. Magma akan mendingin menciptakan batuan keras baru, biasanya batuan basal. Selama proses pemanasan membuat batu hangat dan batuan mulai pecah dan mengubah diri menjadi sedimen.

Baca juga  Gunakan Bukti Sosial Dalam Email Marketing Anda (Studi Kasus)

Peran air dalam siklus batuan

Photo credit: Google

Kehadiran banyak air di bumi sangat penting untuk siklus batuan. Yang paling jelas adalah air yang mengalir di proses erosi dan pelapukan. Air dalam bentuk pengendapan dan air tanah cukup efektif untuk melarutkan mineral batuan, terutama batuan metamorf dan batuan beku serta batuan sedimen laut yang tidak stabil di bawah permukaan dan kondisi udara.

Air yang membawa ion yang larut dan fragmen yang pecah adalah produk pelapukan. Air di sungai mengalir membawa banyak sedimen kembali ke lautan dan cekungan pedalaman. Sedimen yang terakumulasi dan terpendam diubah kembali menjadi batu.

Peran air yang kurang terlihat adalah di proses metamorfisme yang terjadi di batuan vulkanis, yang kadang dipanaskan, dialirkan melalui fraktur dan celah di batuan. Semua proses ini merupakan bagian penting dari destruksi batuan vulkanis.

Siklus batuan awal

Photo credit: Google

Batuan pertama bumi (batuan beku) mendingin dari lelehan, membentuk dua jenis batuan yakni granit dan basal. Basal adalah batuan padat kaya zat besi dan membentuk dasar lautan. Granit kurang padat, tapi kaya silikat. Erosi perlahan melepas nutrisi ini ke udara.

Pembentukan tanah

Photo credit: Google

Permukaan bumi lambat tapi kondisi yang terus-menerus membentuk tanah (kandungan dimana tanaman berkembang). Bumi yang dinamis memudahkan pembentukan tanah, tanpanya tidak akan ada tanaman yang bisa hidup.

Energi

Photo credit: Google

Siklus batuan bisa diprediksi dan memberi gambaran lokasi sumber energi yang mungkin. Misalnya, bahan bakar fosil ditemukan di lingkungan sedimen sedang elemen radioaktif untuk energi nuklir (uranium) bisa ditemukan di lingkungan batuan sedimen atau batuan beku.

Tinggalkan komentar