Mengenal Sejarah RA Kartini

Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879. Ia menyandang nama Raden Adjeng, yang menandakan dirinya sebagai bagian dari keluarga bangsawan Jawa yang pada saat itu terintegrasi dengan administrasi kolonial Belanda.

Ayah RA Kartini adalah seorang bupati yang dididik oleh Belanda pada tahun 1860-an. Ia bisa menggunakan Bahasa Belanda dengan baik dan banyak membaca literatur barat.

Ia juga mendidik anak-anaknya dengan cara demikian, mulai dari usia 6 tahun Kartini dan saudara-saudara perempuannya belajar di sekolah dasar Belanda. Tapi di usia 12 tahun, mereka terpaksa meninggalkan sekolah dan mengikuti tradisi dikurung di rumah hingga menikah.

Kartini dididik di sekolah Belanda

Photo credit: Google

Ketika kecil, Kartini sangat aktif, bermain dan memanjat pohon. Ayahnya mengizinkan Kartini mengikuti sekolah dasar Belanda bersama anak-anak laki. Belanda menjajah Jawa dan mereka mendirikan sekolah terbuka hanya untuk orang Eropa dan anak dari keluarga Jawa yang kaya. Karini menjadi satu dari wanita lokal pertama yang dibolehkan belajar membaca dan menulis Bahasa Belanda.

Meski mendapat izin untuk bersekolah, tradisi Jawa mengenal istilah pingit, dimana semua anak perempuan, termasuk Kartini, dipaksa untuk meninggalkan sekolah di usia 12 tahun dan tinggal di rumah.

Kartini harus menunggu ada pria yang mau melamarnya dan menjadikannya sebagai istri. Meski berasal dari wanita kelas atas, tidak bisa menyelamatkannya dari tradisi diskriminasi ini. Bagi Kartini, salah satu cara keluar dari tradisi ini adalah dengan menjadi wanita mandiri.

Baca juga  Perang Paregreg Dalam Sejarah Kerajaan Majapahit

Kartini menulis surat ke Belanda

Photo credit: Google

Mulai dari tahun 1900 sampai 1904 Kartini tinggal di rumah karena terikat dengan tradisi Jawa. Ia menemukan cara untuk mengungkapkan keyakinannya dalam surat yang ia tulis dalam Bahasa Belanda dan dikirim ke temannya di Belanda.

Kartini menulis surat tentang banyak hal, termasuk tentang keinginannya untuk meningkatkan pendidikan. Ia juga menjelaskan keterbatasan dalam lingkungan yang ia tinggali.

Bagi Kartini, menulis surat adalah sarana untuk ekspresi kreatif yang menghubungkannya dengan ide filosofis dan dunia luar. Pada kalimat-kalimat awal di surat pertamanya pada Stella Zeehandelaar (SZ), tanggal 25 May 1899 Kartini menyatakan keinginannya untuk merangkul modernitas. Ia saat itu baru berumur 20 tahun.

Kartini menjelaskan kepada Stella bagaimana, ketika ia berumur 16 tahun, keluarga akhirnya melanggar tradisi dan membolehkan 3 saudara perempuannya keluar ke publik lagi sehingga mereka bisa menghadiri perayaan penobatan Ratu Wilhelmina di Belanda.

Kenyataan pahit untuk dirinya dan saudara perempuannya adalah tradisi yang mengharuskan mereka menikah, tanpa hak untuk memilih atau bertemu dengan calon suaminya lebih dulu. Ia juga menjelaskan kebijakan poligami yang berlaku di tempat tinggalnya.

Akses Kartini ke pendidikan barat dan pemahaman tentang kesetaraan membuatnya merasa perubahan harus dilakukan di lingkungan masyarakat Jawa. Pada suratnya untuk Stella pada tanggal l3 januari 1900, ia menjelaskan tentang hal ini. Di surat yang sama Kartini juga mengungkapkan tentang diskriminasi dan ketidaksetaraan.

Pada tahun 1902 Kartini menulis surat ke Mrs. Ovink-Soer. Di dalam suratnya ia berharap bisa melanjutkan pendidikan ke Belanda agar ia bisa bersiap untuk masa depan dan membuat pendidikan mudah dinikmati oleh kaum perempuan.

Membuka sekolah untuk perempuan

Photo credit: Google

Pada 8 November 1903, Kartini harus mengikuti kemauan ayahnya dan menikahi Raden Adipati Joyodiningrat, bupati Rembang.

Baca juga  Menyertakan Lampiran Berkas Pada Email Marketing? (Studi Kasus)

Joyoadiningrat adalah keluarga kaya berusia 50 tahun yang sudah memiliki 3 istri dan banyak anak. Kartini, saat itu berusia 24 tahun, sudah dianggap terlalu tua untuk menikah. Pernikahan ini menjadikannya korban poligami. Ia harus mengakhiri mimpinya untuk belajar ke luar negeri.

Di tahun 1903, Kartini menapaki langkah untuk mencapai kesetaraan perempuan dengan membuka sekolah untuk perempuan. Dengan bantuan dari pemerintah Belanda Kartini mendirikan sekolah dasar pertama di Indonesia khususnya untuk anak perempuan tanpa melihat status sosial mereka.

Sekolah kecil ini berlokasi di dalam rumah ayahnya. Di sana anak-anak dan perempuan muda belajar membaca dan membuat kerajinan tangan.

Antusiasme Kartini dalam mengajar kaum perempuan hanya berlangsung singkat. Pada 7 September 1904, di usia 25 tahun, ia meninggal dunia ketika melahirkan putranya. Kartini dimakamkan di dekat masjid di Mantingan, selatan Rembang.

Siapakah JH Abendanon?

Photo credit: Google

JH Abendanon merupakan menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Ia menjabat dari tahun 1900 sampai 1905.

JH Abendanon ditugaskan oleh Belanda untuk melaksanakan Politik Etis. Di bawah pemerintahan Abendanon, mulai banyak berdiri sekolah-sekolah baik untuk kaum bangsawan maupun rakyat biasa.

J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A. Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku tersebut diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Surat-surat Kartini pertama kali dikumpulkan dan diedit oleh JH. Abendanon dan diterbitkan di Belanda pada tahun 1911. Versi Bahasa Inggris diterbitkan pada tahun 1920 dan kemudian terjemahan dalam Bahasa Melayu diterbitkan di tahun 1922, Bahasa Arab di tahun 1926, Bahasa Sunda di tahun 1930, Bahasa Jawa di tahun 1938,  Bahasa Indonesia di tahun 1938, dan Bahasa Jepang di tahun 1955.

Baca juga  Squeeze Email Marketing Untuk Konversi Yang Lebih Baik

Kartini dan gerakan nasionalis

Photo credit: Google

Karena takut kehilangan kekuasaan dalam teritorinya, kolonial Belanda merasa pengetahuan dan pendidikan Bahasa Eropa bisa jadi alat berbahaya di tangan masyarakat pribumi Jawa. Sebagai konsekuensinya, mereka menekan aktivitas penduduk asli, dan di waktu yang sama mengajak pemerintah Jawa untuk mendukung mereka dalam menguasai wilayah.

Hanya beberapa pejabat, termasuk ayah Kartini, yang bisa belajar Bahasa Belanda. Kartini merasa setelah Eropa memperkenalkan budaya barat ke pulau Jawa, mereka tidak punya hak untuk membatasi keinginan masyarakat Jawa untuk belajar. Kartini pun dianggap sebagai pelopor gerakan nasionalis Indonesia.

Hari Kartini sebagai hari libur nasional

Photo credit: Google

Hari lahir Kartini, yakni pada 21 April dijadikan sebagai hari libur nasional untuk mengenang Kartini sebagai pelopor emansipasi dan hak perempuan. Selama hari libur ini wanita dan perempuan mengenakan baju tradisional sebagai simbolisasi kesatuan dan berpartisipasi dalam lomba kostum, memasak, serta merangkai bunga.

Film tentang Kartini

Photo credit: Google

Film biografi RA Kartini diproduksi untuk jadi bagian dari mempromosikan emansipasi dan pendidikan wanita. Berdasarkan surat yang diterbitkan serta catatan dari para teman Kartini, film ini menyajikan dua aspek dari kehidupan Kartini, kehidupannya dan surat-suratnya, yang setelah kematiannya punya pengaruh besar pada wanita di seluruh dunia. Film Kartini, ditulis dan disutradarai oleh Sjuman Djaya.

Tinggalkan komentar