Percobaan Ingenhousz Tentang Fotosintesis

Tujuan dari percobaan Ingenhousz adalah untuk membuktikan kalau hasil dari fotosintesis adalah oksigen.

Landasan teori percobaan Ingenhousz

Photo credit: Google

Tanaman sebagai organisme autotrof punya kemampuan untuk menghasilkan material organik dari material anorganik. Kemampuan ini karena tanaman punya organel yang disebut kloroplas.

Di siang hari, sinar matahari menjangkau kloroplast dan tanaman bisa mengubah H2O dan CO2 menjadi karbohidrat  dan O2. Karbohidrat akan disimpan sebagai persediaan makanan dan untuk membangun dinding sel.

Reaksi fotosintesis:

6H2O + 6CO2 —-> C6H12O6 + 6O2

Apa yang dibutuhkan dalam percobaan Ingenhousz?

Bahan dan alat untuk melakukan percobaan Ingenhousz:

–       Tabung uji

–       Gelas beker

–       Corong

–       Tanaman

–       Korek api

Prosedur eksperimen Ingenhousz:

–       Isi gelas beker dengan 800 ml air

–       Siapkan tanaman, letakkan tanaman di corong

–       Masukkan corong dan tanaman dalam kondisi terbalik ke gelas beker

–       Masukkan ujung corong ke tabung uji

–       Lihat gambar di bawah ini.

Photo credit: Google

–       Tempatkan gelas beker di luar ruangan (terkena sinar matahari)

–       Tunggu selama 15 menit

–       Angkat tabung uji dan tutup lubang dengan tangan

–       Nyalan korek api dan buka lubang tabung uji, lihat apinya.

Jan Ingenhousz: orang yang menemukan fotosintesis

Photo credit: Google

Jan Ingenhousz (1730-1799) merupakan ilmuwan kelahiran Belanda. Ingenhousz menunjukan cahaya penting untuk respirasi tanaman dan gas yang tanaman hasilkan di cahaya adalah oksigen. Ia kemudian dikenal sebagai penemu fotosintesis.

Baca juga  Apa Itu Nama Domain?

Jan Ingenhousz lahir di tahun 1730 di kota Breda yang saat ini dikenal sebagai Belanda Selatan. Di usia 16 tahun, ia memulai studi di University of Leuven, universitas paling tua dan paling ternama di Belgia.

Di sana, ia menerima gelar MD di tahun 1753. Ia lalu kembali belajar 2 tahun lagi di University of Leiden, dimana ia mengikuti kelas Pieter van Musschenbroek, pengalaman yang membuatnya tertarik pada listrik.

Kembali ke Inggris

Di tahun  1779, Ingenhousz kembali ke Inggris dan pergi ke Calne, kota kecil di bagian barat daya negara tersebut. Di sana, di Bowood House, di laboratorium yang sama dimana temannya Joseph Priestley telah menemukan oksigen hanya beberapa tahun sebelumnya, Ingenhousz melakukan penelitian tentang fotosintesis.

Pada percobaan yang mengarah ke penemuan ini, ia menempatkan tanaman di bawah air dengan wadah transparan dan melihat kalau bagian bawah daun membentuk gelembung di bawah sinar matahari.

Tapi ketika tanaman yang sama diletakkan di tempat gelap, gelembung berhenti terbentuk. Ia juga bisa melihat daun dan bagian berwarna hijau, yang mengandung klorofil dari tanaman, adalah tempat gas diproduksi.

Ia mengumpulkan gas ini dan melakukan sejumlah percobaan untuk menentukan identitasnya. Ia kemudian mengetahui kalau lilin yang menyala akan menjadi api besar ketika terkena gas yang tidak diketahui ini, yang menunjukkan kalau ini adalah oksigen. Ia juga menemukan kalau di kegelapan tanaman melepas karbon dioksida.

Baca artikel lainnya tentang siklus batuan.

Ingenhousz dan imunisasi cacar

Photo credit: Google

Kembali pulang ke Breda di tahun 1755, ia memulai praktik sebagai dokter. Ia menetap di sana hingga tahun ayahnya meninggal (1764), tapi ia memutuskan untuk pergi ke Inggris dan belajar teknik terbaru tentang imunisasi cacar.

Baca juga  Apa Itu Email Marketing?

Di Inggris ia berteman dekat dengan orang-orang terkenal seperti Benjamin Franklin, Henry Cavendish dan Joseph Priestley.

Ingenhousz dan variolation

Ingenhousz menjadi pendukung terdepan variolation, metode awal yang digunakan untuk mengimunisasi pasien dari Variola (cacar) yang melibatkan menyuntikkan pasien dengan virus cacar yang diambil dari pasien dengan penyakit ini di tingkat ringan.

Selama wabah di Hertfordshire di tahun 1767, ia berhasil menggunakan metode ini untuk mengimunisasi 700 orang dari cacar dan segera setelahnya ia menyediakan layanan yang sama untuk keluarga Raja George III.

Di tahun berikutnya, penguasa Austro-Hungaria, Maria Theresa, yang merasa takut cacar, membaca tentang keberhasilan Inggris terhadap penyakit ini dan memutuskan untuk mengobati keluarganya, meski dokternya sendiri menentangnya.

Ia menulis surat kepada Raja George untuk meminta saran tentang dokter tarbaik dan ia merekomendasikan Ingenhousz. Ingenhousz kemudian pergi ke Austria dan berhasil melakukan variolasi 3 anaknya yang masih kecil.

Kemudian ia menjadi dokter pribadi Maria Theresa dan putranya Joseph II. Ingenhousz tinggal selama 10 tahun di Vienna, dimana di tahun 1775 ia menikah dengan Agatha Maria Jacquin.

Tentang gerak Brownian

Photo credit: Google

Di tahun 1785, Ingenhousz melaporkan bahwa di bawah mikroskop ia mengamati gerakan tidak teratur dari debu batu bara pada permukaan alkohol. Ia kemudian menjelaskan gerak Brownian jauh lebih awal dibanding yang dilakukan oleh Robert Brown (1827), peneliti Inggris yang namanya digunakan untuk fenomena ini.

Ingenhousz mengalami sakit selama kunjungan ke Marquis di Bowood di tahun 1799. Ia meninggal dunia di sana pada 7 September dan dimakamkan di dekat Calne.

Ide eksperimen untuk fotosintesis

Photo credit: Google

Fotosintesis adalah reaksi kimia yang penting untuk kebanyakan kehidupan di dunia. Di proses ini, tanaman menggunakan sinar matahari, karbon dioksida, dan air untuk menciptakan energi makanan.

Baca juga  Tips Membuat Pelanggan Email Anda Merasa Istimewa (Studi Kasus)

Hewan bergantung pada tanaman untuk makan dan untuk mengubah karbon dioksida menjadi oksigen.

Eksperimen tentang fotosintesis membuat kita bisa melihat bagaimana kehidupan tanaman merespon pada kondisi cahaya berbeda di cara yang sederhana.

Efek warna pada fotosintesis

Photo credit: Google

Tanaman menggunakan warna berbeda untuk berkembang. Cahaya merah, misalnya, meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan. Cahaya biru membantu membuat daun sehat. Dengan menumbuhkan toge di jendela di bawah gelas transparan dengan warna berbeda, bisa ketahui yang mana yang paling efektif.

Terlalu banyak atau terlalu sedikit sinar matahari

Photo credit: Google

Karena fotosintesis adalah proses yang penting untuk kesehatan tanaman, mungkin orang berpikir kalau paparan yang lama pada cahaya adalah hal yang bagus. Di sebuah eksperimen, Anda bisa mengekspos tanaman tomat muda pada jumlah cahaya berbeda selama 3 minggu setelah membentuk hipotesa tentang kondisi mana yang terbaik.

Untuk menguji teori Anda, tempatkan satu tanaman di luar, satu di bawah lampu LED yang menyala sepanjang waktu, yang lain di bawah lampu LED yang menyala selama 6 jam sehari, dan yang terakhir di ruangan gelap. Selama dua minggu ke depan, siram tanaman dengan jumlah air yang sama dan catat panjang dan penampilan tiap tanaman.

Tinggalkan komentar