Peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Penyebab Keruntuhannya

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang kuat pada masanya. Kerajaan ini berada di pulau Sumatra dan memiliki daerah kekuasaan hingga Kamboja, Thailand, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Ada banyak peninggalan kerajaan Sriwijaya dalam bentuk prasasti dan candi yang ditemukan. Berikut ini penjelasan tentang prasasti dan candi peninggalan kerajaan Sriwijaya:

Prasasti Palas Pasemah

Photo credit: Google

Prasasti Palas Pasemah berada di Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan, Lampung. Prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi dan ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa dan terdiri dari 13 baris tulisan.

Prasasti Palas Pasemah menjelaskan tentang kutukan untuk orang-orang yang menolak tunduk pada kekuasaan Sriwijaya.

Prasasti Hujung Langit

Prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya selanjutnya adalah Prasasti Hujung Langit. Prasasti ini berada di desa Haur Kuning, Lampung. Tulisan dalam prasasti ini menggunakan Bahasa Melayu Kuno serta aksara Pallawa. Prasasti Hujung Langit diperkirakan berasal dari tahun 997 Masehi, sayangnya isi prasasti tidak bisa terbaca dengan jelas karena mengalami kerusakan cukup banyak.

Prasasti Ligor

Photo credit: Google

Prasasti Ligor berada di Thailand Selatan dengan pahatan pada kedua sisinya. Kedua sisi  dinamakan Prasasti Ligor A dan B. Diperkirakan prasasti ini dibuat oleh raja dari wangsa Sailendra. Prasasti ini menjelaskan mengenai pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana untuk Sri Maharaja.

Di prasasti Ligor B terdapat tulisan angka tahun 775 dengan tulisan aksara Kawi. Prasasti ini juga menjelaskan tentang Visnu yang bergelar Sri Maharaja dari keluarga Śailendravamśa.

Prasasti Kota Kapur

Peninggalan kerajaan Sriwijaya selanjutnya adalah prasasti Kota Kapur. Prasasti ini berada di Pulau Bangka bagian barat. tulisan pada prasasti menggunakan bahasa Melayu Kuno dan aksara Pallawa.

Baca juga  Yang Menarik Dari Rumah Adat Bali

Prasasti yang ditemukan oleh J.K Van der Meulen pada tahun 1892 ini menceritakan tentang kutukan bagi orang yang melanggar titah atau perintah dari Raja Sriwijaya. Dari Prasasti Kota Kapur diketahui kalau kerajaan Sriwijaya sudah berkuasa di sebagian wilayah Sumatera, Lampung, Pulau bangka, dan Belitung.

Prasasti Talang Tuwo

Photo credit: Google

Prasasti Talang Tuwo ditemukan pada 17 November 1920. Prasasti ini berisi tentang aliran Budha yang dianut pada masa Sriwijaya  yang merupakan aliran Mahayana. Ini dibuktikan dengan penggunaan kata yang khas dalam aliran Budha Mahayana seperti Vajrasarira, Bodhicitta, Mahasattva serta annuttarabhisamyaksamvodhi.

Prasasti Talang Tuwo masih berada di kondisi yang baik. Prasasti ini ditulis pada sebuah bidang datar berukuran 50 cm x 80 cm dengan angka 606 Saka (23 Maret 684 Masehi). Prasasti menggunakan Bahasa Melayu kuno dan ditulis dalam aksara Pallawa.

Prasasti Talang Tuwo terdiri dari 14 kalimat dan berhasil diterjemahkan oleh Van Ronkel serta Bosh yang sudah dimuat pada Acta Orientalia. Prasasti yang bisa dilihat di Museum Nasional Jakarta ini bercerita tentang pembangunan taman oleh Raja Sri Jayanasa yang dibuat untuk rakyat pada abad ke-7. Juga dijelaskan kalau taman yang dibuat berlokasi di tempat yang memiliki pemandangan indah di kawasan dengan bukit serta lembah. Taman ini diberi nama Taman Sriksetra.

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini ditemukan pada 29 November 1920 dengan ukuran 45 cm x 80 cm menggunakan bahasa Melayu kuno dan aksara Pallawa.

Prasasti Kedukan Bukit  berisi cerita tentang utusan kerajaan Sriwijaya yaitu Dapunta Hyang yang melakukan perjalanan suci memakai perahu. Ia didampingi oleh 2000 pasukan. Prasasti ini bisa ditemukan di Museum Nasional  Jakarta.

Baca juga  Squeeze Email Marketing Untuk Konversi Yang Lebih Baik

Dari Prasasti Kedukan Bukit ini diperoleh data yakni Dapunta Hyang yang berangkat dari Minanga lalu menaklukan kawasan dimana ditemukan prasasti tersebut yakni Sungai Musi, Sumatera Selatan.

Prasasti Leiden

Photo credit: Google

Diantara prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya ada Prasasti Leiden. Prasasti ini ditulis pada lempengan tembaga dalam bahasa Sansekerta serta Tamil. Prasasti Leiden disimpan di museum Belanda.

Prasasti ini bercerita tentang hubungan yang harmonis antara dinasti Chola dari Tamil dan dinasti Sailendra dari Sriwijaya.

Candi Muara Takus

Candi Muara Takus berada di Desa Muara Takus Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Candi ini dikelilingi oleh tembok 74 x 74 meter yang dibuat dengan batu putih. Candi ini terbuat dari batu pasir, batu bara, dan batu sungai yang membedakannya dari candi kebanyakan di Jawa yang terbuat dari batu andesit.

Di kompleks candi Muara Takus terdapat stupa dengan ukuran besar berbentuk menara yang terbuat dari batu bata dan batu pasir kuning. Di komplek Candi Muara Takus juga ada bangunan Candi Bungsu, Candi Tua, Palangka dan juga Stupa Mahligai.

Prasasti Berahi

Photo credit: Google

Prasasti Berahi ditemukan di Batang Merangin, Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, kecamatan Pamenang, Merangin, Jambi. Prasasti Berahi menceritakan tentang kutukan bagi mereka yang tidak setia pada Raja Sriwijaya. Prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa melayu kuno, tapi tidak ditemukan angka tahun di dalamnya.

Gapura Sriwijaya

Gapura Sriwijaya  berlokasi di Dusun Rimba, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan.  Di dalam kompleks gapura terdapat 7 gapura. Sayangnya kondisi gapura sudah roboh karena faktor alam seperti erosi dan gempa. Reruntuhan gapura berupa  batu-batu segi lima dan cekung pada salah satu sisi. Bentuk cekung ini menjadi pengunci agar batu bisa menyatu.

Baca juga  Gunakan Email Pengingat Untuk Membeli Lagi (Replenishment)

Candi Muaro Jambi

Photo credit: Google

Kompleks Candi Muaro Jambi berada di lokasi seluas 3981 hektar dan menjadi komplek candi terbesar di Asia Tenggara. Di dalam komplek candi terdapat 9 buah candi yang telah mengalami pemugaran yaitu Gedong Satu, Kembar Batu, Kotomahligai, Gedong Dua, Tinggi, Gumpung, Candi Astano, Kembang Batu, Telago Rajo, dan Kedaton.

Tidak hanya candi, di komplek candi ini juga ditemukan  kanal buatan manusia, kolam penampungan pasir, dan gundukan tanah dengan struktur bata kuno.

Candi Bahal

Candi Bahal disebut juga Candi Portibi atau Biaro Bahal. Candi ini berada di Desa Bahal, kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Material candi terbuat dari bata merah dengan bagian kaki terdapat hiasan ukiran tokoh Yaksa berkepala hewan. Candi yang mencolok ini menjadi tujuan wisata ketika orang berkunjung ke Sumatera.

Keruntuhan kerajaan Sriwijaya

Photo credit: Google

Kemunduran kerajaan Sriwijaya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor keruntuhan kerajaan ini adalah adanya serangan dari Rajendra Chola I, seorang dinasti Cholda di India bagian selatan di tahun 1025 dan 1017.

Karena serangan ini, banyak jatuh korban dari pihak kerajaan Sriwijaya. Ini juga menyebabkan perdagangan yang awalnya dikuasai kerajaan Sriwijaya jatuh ke tangan Raja Xhola.

Meski tetap berdiri, kekuatan militer kerajaan Sriwijaya semakin lemah. Beberapa daerah kekuasaan juga mulai melepaskan diri. Selain itu, kemunculan raja-raja hebat di banyak wilayah membuta Sriwijaya semakin lemah. Akhirnya kerajaan Sriwijaya mengalami keruntuhan pada abad ke-13.

Tinggalkan komentar