Pengertian Puisi dan Sastrawan Populer Indonesia

Pengertian puisi adalah teks  atau karangan untuk mengungkapkan perasaan maupun ide dengan keindahan kata-kata sebagai bagian utamanya. Berbagai hal bisa diungkapkan dalam puisi mulai dari rasa rindu, gelisah, kagum, bahagia, sedih,dan sebagainya.

Beberapa puisi pertama sastrawan Indonesia muncul di tahun 1920-an. Karya sastra berupa puisi di Indonesia mulai dikenal di awal abad 20 ketika perjuangan kemerdekaan dari kolonial mendapat momentum yang tepat.

Berikut ini tokoh-tokoh sastrawan di Indonesia serta puisinya:

Mohammad Yamin (1903-1962)

Photo credit: Google

Mohammad Yamin lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat pada 23 Agustus 1903. Di masa hidupnya beliau banyak menulis puisi berlatar belakang sejarah. Sejumlah puisinya ada dalam antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963) susunan H.B. Jassin.

Beberapa pihak menganggap Mohammad Yamin sebagai perintis penyair dalam sastra moderen indonesia. Puisi berjudul “Gembala” berikut ini merupakan salah satu karya Mohammad Yamin:

Gembala

Perasaan siapa tidak kan nyala

Melihatkan anak berlagu dendang

Seorang sahaya di tengah padang

Tiada berbaju buka kepala.

Beginilah nasib anak gembala

Berteduh di bawah kayu nan rindang;

Semenjak pagi meninggalkan kandang

Pulang ke rumah di senja-kala.

Jauh sedikit sesayup sampai

Terdengar olehku bunyi serunai

Melagukan alam, nan elok permai.

Wahai gembala di segara hijau

Mendengar puputmu menurutkan kerbau

Maulah aku menurutkan dikau.

Sanoesi Pane (1905–1968)

Photo credit: Google

Sanoesi Pane lahir di Muarasipongi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada 14 November 1905. Semasa hidupnya beliau aktif di dunia pendidikan dan pengajaran. Ia juga pernah bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka.

Sanusi Pane menulis sejumlah puisi dengan judul Madah Kelana di tahun 1931. Karya-karyanya juga ada dalam antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963) yang disusun oleh HB. Jassin.

Baca juga  Mengenal Metamorfosis Katak

Salah satu puisi karya Sanusi Pane berjudul “Pagi” berikut ini:

Pagi

Pagi telah tiba, sinar matahari

Memancar dari belakang gunung,

Menerangi bumi, yang tadi dirundung

Malam, yang sekarang sudahlah lari.

Alam bersuka ria, gelak tersenyum,

Berseri-seri, dipeluk si raja siang.

Duka nestapa sudah diganti riang,

Sebab Sinar Bahagia datang mencium.

Mari, O Jiwa, yang meratap selalu

Dalam rumahmu, turutlah daku.

Apa guna menangisi waktu yang silam?

Mari, bersuka ria, bercengkerama

Dengan alam, dengan sinar bersama-sama,

Di bawah langit yang seperti nilam.

Roestam Effendi (1902–1979)

Roestam Effendi lahir di Padang, Sumatera Barat pada 13 Mei 1902. Salah satu karya Roestam Effendi yang cukup populer adalah Bebasari yang ditulis pada tahun 1920-an. Pemerintah Belanda sempat melarang pementasan drama ini karena dianggap sindiran terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Berikut ini salah satu puisi karya Roestam Effendi:

Photo credit: Google

Kepada Yang Bergurau

O Engkau cucu Adam

Yang bermain di taman bunga, berteduh di bawah bahgia.

Alangkah senang sentosamu,

Menyedapi buah yang lezat, bertangkai di Pohon Asmara

O Engkau Ratna alam,

Yang bertilam kesuma nyawa, disimbur Asmara juwita,

Soraikan gelak suaramu,

Dipeluki tangan yang lembut, dicium, di riba Permata.

O Engkau makhluk Tuhan,

Sepatah madah tolong dengarkan, tolong pikirkan,

Sekalipun tuan dalam bergurau.

Jauh bersunyi tolan

Seorang beta dalam berduka, tiap ketika,

Merindukan tanah dapat merdeka.

Sutan Takdir Alisjahbana (1908–1994)

Photo credit: Google

Beliau merupakan editor majalah Pujangga Baru sekaligus orang yang paling vokal mendorong Indonesia mengadopsi modernitas dari barat. Karya sastra beliau tidak lagi terikat pada tradisi lama.

Berikut salah satu puisi dari Sutan Takdir Alisjahbana:

Buah Karet

Sekali aku duduk dibawah pohon karet dan terkejut

mendengar letusan nyaring di atas kepalaku: biji matang

menghambur dari batangnya.

Ya, aku tahu, dimana-mana tumbuh menghendaki

bebas dari ikatan!

*

Terdengarkah itu olehmu, wahai angkatan baru?

Putuskan, hancurkan segala yang mengikat!

Baca juga  Contoh CV Mahasiswa Dalam Bahasa Inggris

Rebut gelanggang lapang disinar terang!

Tolak segala lindungan!

Engkau raja zamanmu!

*

Biar mengeluh, biar merintih segala nenek moyang!

Lagi pohon yang bisu insaf, bahwa biji yang sekian

lama dikandungnya itu akan mati busuk dibawah

lindungan.

Bahwa bayangan rindang yang meneduhi itu meng-

halangi tumbuh.

Amir Hamzah (1911–1946)

Photo credit: Google

Amir hamzah lahir di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara pada 28 Februari 1911. Bersama S. Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane, beliau mendirikan majalah Pujangga Baru. Sejumlah puisinya ada dalam antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963).

Berikut ini salah satu puisi dari Amir Hamzah:

Subuh

Kalau subuh kedengaran tabuh

semua sepi sunyi sekali

bulan seorang tertawa terang

bintang mutiara bermain cahaya

 

Terjaga aku tersentak duduk

terdengar irama panggilan jaya

naik gembira meremang roma

terlihat panji terkibar di muka

 

Seketika teralpa;

masuk bisik hembusan setan

meredakan darah debur gemuruh

menjatuhkan kelopak mata terbuka

 

Terbaring badanku tiada berkuasa

tertutup mataku berat semata

terbuka layar gelanggang angan

terulik hatiku di dalam kelam

 

Tetapi hatiku, hatiku kecil

tiada terlayang di awang dendang

menanggis ia bersuara seni

ibakan panji tiada terdiri.

Chairil Anwar (1922-1949)

Photo credit: Google

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 26 Juli 1922. Karya-karya puisinya banyak dipengaruhi oleh penulis seperti Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron yang secara tidak langsung memberi pengaruh pada kesusastraan Indonesia.

Berikut ini salah satu puisi karya Chairil Anwar:

Aku

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

Dan akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Sitor Situmorang (1924)

Photo credit: Google

Sitor Situmorang lahir pada 21 Oktober 1924 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Sitor Situmorang memulai karirnya sebagai jurnalis. Selain puisi, ia juga menulis esai dan cerita pendek. Larik-larik puisinya menyiratkan makna yang mendalam.

Baca juga  Landasan Teori Evolusi Oleh Darwin

Berikut ini salah satu puisi karya Sitor Situmorang:

Matahari Minggu

Di hari Minggu di hari iseng

Di silau matahari jalan berliku

Kawan habis tujuan di tepi kota

 

Di hari Minggu di hari iseng

Bersandar pada dinding kota

Kawan terima kebuntuan batas

 

Di hari panas tak berwarna

Seluruh damba dibawa jalan

 

Di hari Minggu di hari iseng

Bila pertemuan menambah damba

Melingkar di jantung kota

Ia merebah pada diri dan kepadatan hari

Tidak menolak tidak terima

Subagio Sastrowardoyo (1924–1995)

Photo credit: Google

Subagio Sastrowardoyo lahir di Madiun, Jawa Timur, pada tanggal 1 Februari 1924. Subagio Sastrowardoyo merupakan seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek dan esai, serta kritikus sastra. Kumpulan puisinya, Simphoni, terbit tahun 1957 di Yogyakarta.

Berikut salah satu puisi karya Subagio Sastrowardoyo:

Kata

Asal mula adalah kata

Jagat tersusun dari kata

Di balik itu hanya

ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata

Kita cinta kepada bumi karena kata

Kita percaya kepada Tuhan karena kata

Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku

bersembunyi di belakang kata

Dan menenggelamkan

diri tanpa sisa

Rendra (1935–2009)

Photo credit: Google

Rendra lahir di Solo tanggal 7 November 1935. Beliau adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai “Burung Merak.” Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok.

Berikut ini salah satu puisi karya Rendra:

Hai, Kamu !

Luka-luka di dalam lembaga,

intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,

noda di dalam pergaulan antar manusia,

duduk di dalam kemacetan angan-angan.

Aku berontak dengan memandang cakrawala.

 

Jari-jari waktu menggamitku.

Aku menyimak kepada arus kali.

Lagu margasatwa agak mereda.

Indahnya ketenangan turun ke hatiku.

Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku

Tinggalkan komentar