Landasan Teori Evolusi Oleh Darwin

Landasan teori Darwin sudah sangat dikenal. Landasan teori Darwin menyatakan perkembangan kehidupan bersifat natural. Sehingga makhluk yang kompleks berevolusi dari nenek moyang yang lebih sederhana.

Apa Anda pernah merasa penasaran dengan berapa banyak jenis tanaman dan hewan yang hidup di dunia? Begitu juga dengan Charles Darwin. Ia merupakan ilmuwan Inggris yang hidup di tahun 1800-an. Darwin muncul dengan teori evolusi. Ia menggunakan teori ini untuk menjelaskan bagaimana seiring waktu hewan berubah dan spesies baru muncul. Kini evolusi banyak diakui para ilmuwan.

Siapakah Charles Darwin?

Photo credit: Google

Charles Robert Darwin (12 Februari 1809 – 19 April 1882) merupakan seorang ilmuwan Inggris. Ia lahir di Shrewsbury, Shropshire. Ia terkenal dengan karyanya tentang teori evolusi. Bukunya berjudul On the Origin of Species (1859) memberi dua kontribusi besar.

Pertama, menjadi bukti kalau evolusi benar terjadi. Kedua, teorinya menjelaskan bagaimana evolusi terjadi. Teori ini dinamakan seleksi alam. Evolusi oleh seleksi alam menjadi kunci untuk memahami biologi dan perbedaaan kehidupan di muka bumi.

Apa yang dimaksud evolusi?

Photo credit: Google

Darwin menyebut evolusi sebagai “descent with modification”. Ini menjelaskan bagaimana kelompok hewan dan tanaman seiring waktu bisa mengalami perubahan. Darwin meyakini semua makhluk memiliki nenek moyang yang sama. Selama lebih dari jutaan tahun, banyak spesies berasal dari satu nenek moyang. Tiap spesies berevolusi untuk bisa sangat sesuai dengan habitatnya.

Baca juga  Mengenal Sistematika Penulisan Makalah Ilmiah

Tapi bagaimana mereka berevolusi? Menurut Darwin, evolusi berlangsung melalui proses yang disebut seleksi alam. Ini artinya beberapa hewan atau tanaman punya watak yang paling tepat untuk sebuah habitat. Hewan inilah yang bertahan hidup dan berkembang-biak.

Mereka mewarisi watak ini ke keturunannya. Seiring waktu, populasi berubah, atau berevolusi, untuk lebih baik menyesuaikan diri dengan dimana mereka berada. Hewan bisa berevolusi dengan perubahan-perubahan kecil. Misalnya, warna bulu atau ukuran tubuh bisa berubah. Tapi, dengan waktu yang cukup, spesies baru bisa terbentuk.

Evolusi memberitahu kita kenapa sebuah spesies terlihat sempurna untuk lingkungannya. Coba pikirkan bagaimana paus sangat tepat berenang di lautan atau bagaimana tangan monyet yang panjang tepat untuk bergantungan di pepohonan.

Landasan teori Darwin mungkin terdengar rumit, tapi sebenarnya cukup sederhana. Mari kita lihat contohnya. Bayangkan sekelompok siput bergerak di bebatuan hitam. Kebanyakan siput berwarna putih dan beberapa berwarna hitam. Siput hitam bisa menyatu dengan batu hitam, tapi siput putih tidak. Sehingga burung bisa menemukan siput putih dan memakannya.

Semakin banyak siput hitam bisa bertahan hidup dan berkembang lebih banyak dibanding siput putih. Ini adalah seleksi alam. Setelah melewati banyak generasi, kelompok siput menjadi sepenuhnya hitam. Perubahan melalui seleksi alam adalah evolusi.

Darwin dan the HMS Beagle

Photo credit: Google

Darwin mengembangkan teori evolusinya ketika bepergian di kapal yang disebut HMS Beagle. Kapal ini berhenti di Amerika Selatan, Australia, dan Afrika. Pada tiap lokasi Darwin mempelajari tanaman dan hewan yang ia temukan.

Di pulau Galapagos dekat Ekuador, Darwin melakukan beberapa pengamatan penting. Ia menemukan kalau pulau terdekat punya spesies burung berbeda. Spesies ini mirip tapi tidak sama. Ia mengamati masing-masing spesies punya paruh berbeda yang cocok dengan makanan di pulau tersebut.

Baca juga  Bijak Menggunakan Sumber Daya Alam Yang Tidak Dapat Diperbaharui

Burung yang makan biji-bijian punya paruh yang besar dan tebal, sedang burung yang makan serangga punya paruh yang tipis dan tajam. Ia juga mengamati kalau spesies di pulau itu mirip dengan spesies daratan. Tapi berbeda dari jenis burung di area lain.

Kemudian Darwin mengembangkan teori untuk menjelaskan pengamatannya, yakni teori evolusi. Spesies di pulau tersebut sangat mirip dengan spesies daratan karena mereka berevolusi spesies daratan itu. Melalui evolusi, burung beradaptasi dengan kondisi pada tiap pulau. Mereka mengembangkan paruh berbeda agar cocok dengan sumber makanan berbeda. Perlahan, mereka menjadi spesies yang terpisah.

Bukti evolusi

Photo credit: Google

 

 

Saat ini hampir semua ilmuwan mengakui teori evolusi. Ada banyak bukti yang mendukung teori Darwin. Kita bisa lihat bukti evolusi dari penemuan fosil. Fosil menunjukkan bagaimana spesies berubah sepanjang waktu. Kita bisa lihat kesamaan antara spesies yang punah dan yang masih hidup saat ini.

Kemiripan antara spesies yang kita lihat saat ini menunjukkan nenek moyang yang sama. Misalnya, manusia, anjing, burung, dan ikan paus punya struktur tulang punggung sama.

DNA juga mendukung teori Darwin. Darwin tahu kalau orangtua bisa mewarisi watak ke anaknya, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Kini, ilmuwan tahu kalau DNA membawa watak dari orangtua ke anak. Kemiripan DNA dari spesies berbeda mendukung gagasan kalau semua kehidupan di dunia saling berkaitan.

Saat ini kita bisa lihat evolusi skala kecil pada organisme dengan umur pendek. Ambil contoh bakteri. Manusia membunuh bakteri berbahaya menggunakan antibiotik. Akibatnya, populasi bakteri tertentu telah berevolusi menjadi tahan terhadap antibiotik. Ini berarti antibiotik tidak bisa membunuh bakteri ini lagi.

Baca juga  Bagaimana Cara Uninstall Avast dari PC?

Fakta perdebatan tentang teori evolusi

Berikut ini beberapa perdebatan serta fakta yang muncul terkait evolusi yang terjadi di Amerika maupun wilayah lain:

Hanya minoritas orang Amerika yang sepenuhnya menerima evolusi melalui seleksi alam

Photo credit: Google

Sekitar 62 persen mengatakan manusia telah berevolusi seiring waktu. Tapi hanya sedikit melebihi dari setengahnya (33 persen) menyatakan keyakinan kalau manusia dan makhluk lain berevolusi hanya semata karena proses alam.

Seperempat dari orang dewasa Amerika (25 persen) mengatakan evolusi dipandu oleh kekuatan Tuhan. Survey yang sama mendapati kalau 34 persen orang Amerika menolak evolusi sepenuhnya, dan mengatakan manusia dan makhluk lain telah ada sejak awal.

Lebih luas, kebanyakan orang Amerika (59 persen) mengatakan kalau ilmu dan agama sering menimbulkan konflik, tapi mereka yang lebih agamis kurang mungkin melihat ini sebagai perpecahan antara agama dan imu.

Orang yang datang ke gereja sekali seminggu sebanyak 50 persen menganggap agama dan ilmu berkonflik, dibandingkan dengan 73 persen mereka yang jarang atau tidak pernah beribadah.

Dibandingkan dengan Amerika, bahkan persentase orang lebih besar di banyak negara menolak evolusi

Photo credit: Google

Misalnya di Amerika Latin, sekitar 4 dari 10 orang dari beberapa negara, termasuk Ekuador, Nikaragua, dan Republik Dominika, mengatakan manusia dan makhluk lain selalu ada dalam bentuk yang sekarang. Ini benar meski ajaran Katolik, yang mayoritas di wilayah tersebut, tidak menolak evolusi. Sedang muslim di berbagai negara berbeda pendapat dalam topik ini, meski kebanyakan negara muslim seperti Afghanistan, Indonesia, Irak menolak evolusi.

Tinggalkan komentar