Bahaya Vapor Untuk Kesehatan, Apa Saja?

Vapor atau rokok elektrik adalah alat yang menggunakan baterai yang bekerja dengan memanaskan cairan aerosol yang pengguna hirup dan keluarkan. Cairan vapor biasanya mengandung nikotin, propylene glycol, glycerin, dan bahan kimia lainnya.

Nikotin adalah senyawa adiktif yang terdapat pada rokok biasa serta produk tembakau lainnya. Penelitian menunjukkan kalau aerosol rokok elektrik pada umumnya memiliki kandungan yang bisa berbahaya, termasuk bahan kimia seperti diacetyl, yang terkait dengan penyakit paru, logam seperti timbal, dan bahan kimia penyebab kanker lainnya.

Apa risiko kesehatan dari rokok elektrik?

bahaya vapor
Photo credit: Google

Dibandingkan rokok biasa, rokok elektrik telah masuk ke pasaran belum cukup lama. Ilmuan mempelajari rokok elektrik untuk memahami bagaimana penggunaannya mempengaruhi kesehatan orang. Berikut ini yang perlu diketahui:

Rokok elektrik biasanya mengandung nikotin

Nikotin membuat produk tembakau bersifat adiktif. Waspadai beberapa rokok elektrik yang mengklaim bebas nikotin tapi ternyata mengandung nikotin.

Rokok elektrik bebahaya untuk anak, remaja, dan wanita hamil

Nikotin pada vapor berbahaya untuk bayi yang sedang berkembang, dan bisa memicu kecanduan dan membahayakan perkembangan otak pada anak dan remaja di awal usia 20-an.

Meski masih dibutuhkan penelitian tentang rokok elektrik, ada bukti jelas kalau efek penggunaan rokok elektrik berbahaya untuk kesehatan dan anak serta remaja tidak boleh menggunakannya.

Baca juga  Menggunakan Kode Referal Dalam Email Marketing (Studi Kasus)

Rokok elektrik bisa mengandung unsur bahaya lainnya

Photo credit: Google

Meski rokok elektrik biasanya punya lebih sedikit bahan kimia dibanding rokok biasa, tetap mengandung logam berat seperti timbal, yang terkait dengan penyakit paru-paru, partikel kecil yang bisa dihisap masuk ke paru-paru, dan bahan kimia penyebab kanker.

Berada dekat dengan orang yang menggunakan rokok elektrik bisa membuat Anda terpapar aerosol dan bahan kimia di dalamnya. Ini sama dengan perokok pasif pada rokok biasa.

Bagaimana kecanduan nikotin mempengaruhi otak?

Penelitian menemukan kalau nikotin bisa membuat otak hewan lebih reseptif terhadap efek obat lain. Beberapa ahli menganggap ini bisa juga terjadi pada manusia. Bila demikian, usia muda yang menggunakan rokok elektrik atau rokok tembakau bisa menganggap obat lain seperti kokain, lebih bermanfaat.

Efek ini pada otak meningkatkan kemungkinan penggunaan obat lain dan kecanduan. Untuk lebih jauh mempelajari kemungkinan ini, peneliti meriset orang usia muda yang menggunakan rokok elektrik untuk mengetahui apakah mereka lebih mungkin menjadi kecanduan terhadap obat lain.

Mitos dan fakta seputar bahaya vapor

Photo credit: Google

Berikut ini beberapa mitos dan fakta seputar bahaya vapor yang perlu Anda ketahui:

Mitos : Rokok elektrik tidak mengandung nikotin

Fakta : Hampir semua rokok elektrik mengandung nikotin, termasuk yang mengklaim bebas nikotin.

Sebuah penelitian menunjukkan tingkat nikotin yang bervariasi pada rokok dan tidak konsisten antara jumlah yang terdaftar dan tingkat nikotin sebenarnya pada produk ini. Nikotin adalah kandungan adiktif yang memiliki efek negatif pada kesehatan, termasuk perkembangan otak manusia. Semakin banyak orang menggunakan nikotin, semakin besar potensi kecanduan.

Mitos : Rokok elektrik membantu perokok berhenti

Photo credit: Google

Fakta : Belum ditemukan rokok elektrik yang aman dan efektif membantu berhenti merokok.

Baca juga  Aneka Resep Puding Susu Dengan Berbagai Topping

Bukannya berhenti, banyak pengguna rokok elektrik terus menggunakan rokok elektrik sambil tetap mengonsumsi rokok biasa. Di tahun 2015, sebanyak 59 persen orang yang baru saja menggunakan rokok elektrik juga merokok rokok biasa. Meski merokok beberapa batang sehari berbahaya untuk kesehatan.

Ketika perokok ingin berhenti merokok, mereka perlu bicara pada dokter tentang penggunaan pengobatan yang aman dan efektif untuk membantu berhenti merokok.

Baca artikel lainnya tentang ukuran foto ideal untuk postingan di media sosial.

Apakah vapor berbahaya untuk orang di sekitar Anda?

Rokok elektrik memang kurang berbahaya bagi lingkungan dibanding rokok tembakau, tapi tidak bebas dari risiko bahaya potensial untuk orang di sekitar Anda. Hasil penelitian saling berlawanan tapi bisa disimpulkan kalau untuk kebanyakan mereka, paparan besar memang berkurang.

Alasan utamanya adalah karena tidak ada pembakaran. Pada rokok elektrik tidak ada arus sekunder, rokok elektrik tidak memproduksi asap bila tidak diaktifkan, berbeda dengan rokok tembakau yang diletakkan di asbak tetap memproduksi asap berbahaya. Selain itu rentang waktu asap di udara sangat rendah dibanding pada asap tembakau.

Vapor menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi

Photo credit: Google

Penelitian memeriksa sel yang diambil dari hidung orang yang terdiri dari 3 kelompok, pengguna rokok, pengguna vapor, dan kelompok yang bukan keduanya. Penelitian kemudian mengukur tingkat aktivitas di sel untuk membantu mendukung sistem kekebalan tubuh melawan infeksi.

Hasilnya mengejutkan, baik pengguna vapor dan perokok menunjukkan tanda hilangnya aktivitas pada gen ini, tapi kelompok pengguna vapor menunjukkan penurunan aktivitas pada lebih dari 300 gen dibanding perokok biasa.

Ini membuktikan kumpulan yang ada di cairan yang digunakan untuk menciptakan vapor memiliki efek  menekan sistem kekebalan tubuh.

Baca juga  Bagaimana Perang Teluk Terjadi?

Vapor dengan tenaga ion lithium bisa meledak

Kenneth Barbero dari New York jadi salah satu individu yang mengalami luka serius akibat pembakaran vapor. Ia menjelaskan ledakan vapor melubangi lidahnya, lengan kirinya terbakar, dan beberapa giginya lepas. Ledakan ini terjadi akibat baterai ion lithium yang digunakan untuk menyalakan vapor kepanasan, sehingga menghasilkan ledakan berbahaya yang bisa membunuh siapa saja.

Tanpa sengaja menelan cairan vapor bisa sebabkan keracunan

Photo credit: Google

Keracunan bisa terjadi karena menelan, menghirup, atau menyerap cairan pada mata dan kulit. Yang lebih berbahaya, ditemukan lebih dari setengah kondisi darurat ini melibatkan anak kecil dibawah usia 5 tahun, salah satunya karena varian rasa permen dan buah yang menarik bagi anak.

Cairan ini juga diketahui menyebabkan iritasi kulit tingkat menengah hingga berat ketika tanpa sengaja terpapar.

Partikel logam ditemukan pada asap vapor

Pada sebuah penelitian, ditemukan logam seperti nikel, perak, zat besi, aluminium, silikat dan chromium pada asap vapor di tingkat yang sama atau lebih besar dibanding konsentrasi yang ditemukan pada rokok tradisional.

Nanopartikel ini diketahui masuk ke dalam sistem pernapasan dan menjangkau kantung di paru-paru, sering menyebabkan kerusakan dan luka permanen. Paparan internal pada logam ini terkait dengan risiko kanker dan pertumbuhan sel abnormal.

Risiko pneumonia pada pengguna vapor

Photo credit: Google

Lipoid pneumonia ditemukan pada seorang  wanita berusia 42 tahun yang mulai menggunakan rokok elektrik, menyebabkan masalah pernapasan. Ini bentuk pneumonia yang disebabkan oleh reaksi peradangan karena hadirnya kandungan lipid pada paru-paru atau kumpulan lemak pada jaringan paru-paru.

Dokter menghubungkan sumber infeksi dengan paparan pada minyak gliserin yang ditemukan pada rokok elektrik. Setelah berhenti menggunakan rokok elektrik dan menjalani perawatan, kondisi pernapasan pasien berangsur membaik.

Tinggalkan komentar