Mengenal Alat Musik Tradisional Dari Berbagai Belahan Dunia

Alat musik tradisional biasanya digunakan di kelompok masyarakat tertentu dan pada umumnya tidak diketahui siapa penciptanya. Alat musik tradisional bisa terbuat dari kayu, logam, atau material lainnya.

Berikut ini beragam alat musik tradisional dari berbagai tempat di dunia:

Ðàn Tre

Photo credit: Google

Ðàn Tre, jika diterjemahkan artinya alat musik bambu. Ðàn Tre merupakan alat musik unik karena hanya ada dua di dunia. Alat musik ini dibuat oleh pengungsi Vietnam Minh Tam Nguyen saat ia berada di kemah buruh tempat ia dikirim.

Ðàn Tre merupakan gabungan dari tradisi musik Eropa dan Asia, dibuat dari material daur ulang yang ditemukan di sekitar perkemahan. Bambu, wadah minyak zaitun yang menggemakan suara pada sepanjang bambu, dan 23 senar dibuat dari bagian dalam kabel pesawat telepon.

Tenor cornett

Photo credit: Google

Tenor cornett juga dikenal sebagai kadal karena bentuknya yang berkelok-kelok. Tenor cornett merupakan instrumen tiup yang populer dari sekitar tahun 1500 sampai 1650. Tenor cornett dibuat dari pipa kayu dengan lubang jari di sepanjang bagiannya.

Alat musik ini dikenal sulit dimainkan. Bagian corong alat musik ini lebih mirip dengan instrumen kuningan dibanding yang dari kayu. Untuk memainkannya dibutuhkan bentuk bibir dan mulut tertentu, yang bisa melelahkan bila dilakukan untuk jangka waktu lama. Dengan variasi dari 2,5 oktaf, cornett umumnya digunakan untuk memperkuat suara manusia dalam paduan suara.

Mayuri

Photo credit: Google

Alat musik tradisional ini populer di India di abad ke-19. Mayuri bentuknya seperti burung merak dan merupakan variasi dari esraj. Esraj merupakan alat musik yang mirip sitar, dengan senar dan dimainkan sambil berlutut.

Baca juga  Gambaran Surga Menurut Al Quran

Burung merak  pada alat musik ini merupakan simbol India dan terkait dengan Saraswati, dewi musik Hindu.

Tidak hanya terlihat seperti burung merak yang cantik, alat musik tradisional ini juga dibuat menggunakan bulu dan paruh burung merak asli. Mayuri memiliki bagian lekuk metal yang bisa digerakkan dan bagian perutnya terbuat dari perkamen.

Chime bells

alat musik tradisional
Photo credit: Google

Chime bells merupakan alat musik tradisional selama dinasti China Qin dan Han. Alat musik ini digantung pada rangka dan diatur berdasarkan ukuran. Bel secara seksama dibuat sehingga area berbeda menciptakan suara berbeda ketika dipukul.

Tiap bel memiliki dua nada berbeda, yang jaraknya 3 skala. Chime bells biasanya dimainkan oleh 5 orang, dua berdiri di depan dengan tongkat kayu panjang untuk memukul bel Yong, yang menciptakan nada rendah. Sedang 3 pemain lagi berdiri di belakang, memukul bel Yong alto dan nada tinggi serta bel Niu dengan palu kayu berbentuk T.

Copper serpent

Photo credit: Google

Copper serpent, merupakan turunan dari tuba. Alat musik ini muncul di akhir abad 16 di Perancis. Serpent digunakan untuk mendampingi lantunan Gregorian dan secara tradisional dibuat dari kayu yang diikat menggunakan kulit. Tapi tembaga lebih umum digunakan sebagai bahan pembuatnya karena terbukti sebagai material yang lebih stabil.

Alat musik tradisional ini awalnya dipegang vertikal, tapi kemudian musisi mulai memainkannya secara horizontal. Serpent memiliki peran populer dalam musik, digunakan oleh Mozart pada Ascanio in Alba 1771, oleh Wagner di opera Rienzi, dan oleh Jerry Goldsmith dalam film Alien.

Russian Bassoon

Photo credit: Google

Russian bassoon, meski mirip bentuknya dengan bassoon klasik, sebenarnya alat musik ini adalah jenis bass terompet. Russian Bassoon juga bukan berasal dari Rusia, karena ditemukan di Perancis dan digunakan pada band militer di abad 18 di Prussia dan Rusia.

Baca juga  Pentingnya Membuat Pengumuman Dalam Email Marketing (Studi Kasus)

Russian Bassoon dikembangkan dari desain serpent, tapi alat musik ini memiliki panjang vertikal dan pipa lurus yang membuatnya mudah dimainkan sambil berbaris atau bahkan sambil berkuda. Russian Bassoon memiliki 6 lubang, 3 kunci, dan bel di ujung yang dibuat unik membentuk seperti naga.

Zurna

Photo credit: Google

Zurna merupakan alat musik tiup yang digunakan pada musik rakyat yang bisa ditemukan di seluruh Eurasia. Konstruksinya sederhana dan komponen paling penting adalah tanaman alang-alang yang tumbuh di area ini.

Alang-alang diikatkan ke salah satu lubang alat musik ini.  Zurna dibuat secara tradisional dari kayu keras pohon buah, seperti plum atau aprikot, tapi musik yang dihasilkan tidak begitu pas. Zurna juga dikenal karena nada yang keras dan tinggi. Karena menghasilkan volume yang konstan, alat musik ini tidak terlalu cocok untuk penekanan ritme dan karenanya biasanya disertai dengan drum besar.

Baca artikel lainnya tentang sejarah atletik di dunia dan di Indonesia.

Haegeum

Photo credit: Google

Haegeum merupakan alat musik tradisional Korea yang dibuat dari berbagai macam bahan, mulai dari emas, batu, benang, bambu, tanah, kulit, serta kayu. Tanah liat digunakan untuk melapisi bagian dalam kotak suara untuk menghasilkan resonansi yang lebih baik sekaligus meningkatkan durabilitas alat musik ini.

Haegeum mirip biola, dengan leher mirip batang dan dua senar sutra panjang hingga bagian kotak suara kayu di bawahnya. Alat musik ini dimainkan dengan dua tangan, tangan kiri menciptakan tegangan di senar dan tangan kanan mengontrol bungkuknya.

Santour

Photo credit: Google

Santour merupakan salah satu alat musik tradisional paling tua. Berasal dari Persia, nama Santour berarti 100 senar, meski sebenarnya hanya terdiri dari 92 buah senar. Santour dianggap sebagai nenek moyang dari alat musik serupa, karena diadaptasi oleh budaya berbeda sesuai dengan gaya musiknya.

Baca juga  Mengenal Sistematika Penulisan Makalah Ilmiah

Aslinya alat musik ini dibuat dari 3 kulit, kayu, dan senar dari usus kambing. Santour merupakan ayah dari harpa dan dulcimer di Amerika dan Eropa.

Hun

Photo credit: Google

Hun terlihat lebih mirip vas bunga dibanding alat musik tradisional. Tapi sebanarnya Hun lebih bundar dibanding alat musik okarina. Alat musik ini dibuat dari tanah liat, memiliki lubang di atas dan 5 lubang di sekitar diameternya.

Untuk memainkannya Hun dipegang dengan dua tangan, jari menutup dan membuka untuk menghasilkan nada. Utamanya Hun digunakan di kuil di abad 12, tapi belakangan mengalami kebangkitan ketika beberapa komposer Korea mulai menggunakannya dalam film.

Tinggalkan komentar